Kembali

Tak ada apa yang hendak aku tuliskan sebenarnya, cuma rasa rindu untuk berkongsi di sini. Dulu kononnya sukakan privasi- itulah habis semua online blogs aku padam. Kononnya ada orang di luar sana yang punya terlebih masa untuk mengintai segala jejak langkah aku di alam maya. Kelakar pula.

 

Hidup- beginilah. Bahagia yang berlandaskan benda. Cuma aku tergolong dalam kumpulan yang sedikit bertuah kerana mampu untuk punya benda- benda yang membahagiakan dalam jangka masa yang lama. Orang yang berpegang teguh pada pendirian ‘money can’t buy happiness’ beli tiket kapal terbang dengan air liur agaknya.

 

Aku sebenarnya baru pulang dari syurga dunia, Maldives. Teramat cantik tak tercapai akalku. Cerita dan gambarnya banyak, itulah. Sejak sudah tidak berapa muda ini, lebih susah untuk aku berkongsi apa- apa. Marilah kita berkongsi rasa.

 

Sejak sudah tidak berapa muda ini, kelompok kawan- kawan semakin sedikit. Kalau dulu harus guna kaki dan tangan untuk hitung, sekarang memadai dengan tangan saja. Baru seminggu dua lepas aku buangkan lagi seorang yang dulu aku panggil kawan, terlalu negatif aku kira dia untuk masa depanku. Bagai barah. Tak dapat jadi surgeon buang cancerous cells, jadi surgeon buang cancerous friends pun jadilah. Lega dan ringan. Kenapalah aku tak buat dari dahulu, bazir saja bertahun pendamkan rasa dan simpan. Makan hati makan dalam.

 

Nasihat untuk diri sendiri dan sesiapa yang kebetulan membaca- selalulah pentingkan diri sendiri sebelum fikirkan perasaan orang lain. Orang hurt kita, jangan simpan tunggu sampai merebak. Biar orang buat kita, jangan kita buat orang. Betul. Lepas orang buat kita, potong buang dan campakkan saja orang itu ke laut dalam, ikatkan juga batu di kakinya supaya dia tidak lagi timbul ke permukaan untuk mengacau kita di kemudian hari.

 

Puisi Terakhir

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku

Kalian yang pernah mesra
Yang simpati dan pernah baik pada ku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

 

– Soe Hok Gie, Puncak Semeru, Desember 1969

 

Video (dan audio) 

The Wanderlust

Ini entri terakhir.

Saya memutuskan untuk tidak lagi terus menulis secara public, rupanya hidup ini begitu indah bila detiknya cuma berlegar di kelompok kecil.

Within this past year, I’ve found myself, but despite of that I am still one lost soul wandering around. Here is my Facebook page, created for us the lost souls. I may at times share pictures from my travels. Masih lagi akan terus menulis, semoga buku saya siap sebelum dunia kiamat. 

Terima kasih, kalian yang setia menemani selama 6 tahun blog ini wujud.

Semoga semua makhluk berbahagia.